Minggu, 27 April 2014

STRESS

A.      PENGERTIAN STRESS MENURUT PARA AHLI
Menurut Lazarus & Folkman (1986) stres adalah keadaan internal yang dapat diakibatkan oleh tuntutan fisik dari tubuh atau kondisi lingkungan dan sosial yang dinilai potensial membahayakan, tidak terkendali atau melebihi kemampuan individu untuk mengatasinya. Stres juga adalah suatu keadaan tertekan, baik secara fisik maupun psikologis ( Chapplin, 1999). Stres juga diterangkan sebagai suatu istilah yang digunakan dalam ilmu perilaku dan ilmu alam untuk mengindikasikan situasi atau kondisi fisik, biologis dan psikologis organisme yang memberikan tekanan kepada organisme itu sehingga ia berada diatas ambang batas kekuatan adaptifnya. (McGrath, dan Wedford dalam Arend dkk, 1997).

B.       PENGERTIAN COPING MENURUT PARA AHLI
Colman (2001) coping adalah proses dimana seseorang mencoba untuk mengatur perbedaan yang diterima antara demands dan resources yang dinilai dalam suatu keadaan yang stressful.
Lazarus & Folkman (1986) mendefenisikan coping sebagai segala usaha untuk mengurangi stres, yang merupakan proses pengaturan atau tuntutan (eksternal maupun internal) yang dinilai sebagai beban yang melampaui kemampuan seseorang.
Sarafino (2006)  menambahkan bahwa coping adalah proses dimana individu melakukan usaha untuk mengatur (management) situasi yang dipersepsikan adanya kesenjangan antara usaha (demands) dan kemampuan (resources) yang dinilai sebagai penyebab munculnya situasi stres. Aafino (2006) usaha coping sangat bervariasi dan tidak selalu dapat membawa pada solusi dari suatu masalah yang menimbulkan situasi stres. Individu melakukan proses coping terhadap stres melalui proses transaksi dengan lingkungan, secara perilaku dan kognitif.

C.       JENIS STRATEGI COPING
Lazarus, Folkman, dan rekannya (dalam Sarafino, 1998) telah menyebutkan beberapa strategi coping yang bias dikelompokkan kedalam kelompok  :

1.    emotion focused coping
Coping ini merupakan bentuk coping yang lebih memfokuskan pada masalah emosi. Bentuk coping ini lebih melibatkan pikiran dan tindakan yang ditunjukan untuk mengatasi perasaan yang menekan akibat dari situasi stres. Emotion focused coping, terdiri dari usaha yang diambil untuk mengatur dan mengurangi emosi stress penggunaan mekanisme yang dapat menghindarkan dirinya dari berhadapan dengan stressor.
a) Distancing.
Individu mencoba membuat suatu pola pemikiran (berpikir) yang lebih positif terhadap masalah yang dihadapinya. Individu bias mencoba  ertingkah laku seakan-akan tidak pernah terjadi apapun. Individu mencoba untuk tidak terlalu
terpengaruh dengan cara tidak terlalu memikirkan masalahnya. Carver, Scheier dan
Weintraub (dalam Sarafino, 1998) menyebut bicara coping sebagai suatu usaha individu untuk menyangkal (denial) bahwa dirinya dihadapkan pada suatu  masalah.
b) Escape- avoidance.
Individu menghindari untuk menghadapi masalah yang dihadapinya. Contohnya, individu berkhayal bahwa akan ada suatu keajaiban yang bisa membuat masalahnya selesai. Biasanya individu mengambil tindakan  pengalihan perhatian yang negatif (menghindar) terhadap masalahnya dengan tidur terus menerus, keluar rumah, lebih sering menonton televisi, merokok atau minum- minuman beralkohol.
c) Self control.
Individu mencoba untuk mengatur emosinya supaya tidak diketahui oleh orang lain dan mengatur tindakannya dalam menghadapi masalahnya.
d) Accepting responsibility.
Individu menyadari perannya sebagai salah satu penyebab dari masalah yang dihadapinya dan mencoba mengambil tindakan yang tepat untuk menyelesaikan
masalah. Individu merasa bertanggung jawab atas munculnya masalah tersebut.
e) Positive repprasial.
 Individu berusaha mengambil sisi positif dari permasalahan yang dihadapinya yang dapat membantu pertumbuhan pribadinya.

2. Problem Focused Coping.
Coping ini bertujuan untuk mengurangi dampak dari situasi stres atau memperbesar sumber daya dan usaha untuk menghadapi stres. Lazarus dan Folkman (1986) mengemukakan bahwa individu cenderung menggunakan Problem Focused Coping ketika individu memiliki persepsi bahwa stressor yang ada dapat diubah

Menurut Carver, Scheiver dan Weintraub (dalam Triyani Harika, 2000) Dalam  penelitiannya telah menyebutkan beberapa strategi coping yang bias dikelompokan ke dalam  kelompok problem focused coping, yaitu
a) Active coping
Proses mengambil langkah aktif untuk mencoba menghilangkan stressor atau untuk meringankan dampaknya.
b) Planning
memikirkan bagaimana cara untuk mengatasi stressor. Termasuk didalamya adalah memikirkan suatu strategi untuk bertindak, langkah-langkah apa yang harus diambil dan bagaimana cara paling baik untuk mengatasi masalah.
c) Restraint coping
 menunggu sampai adanya kesempatan yang tepat untuk bertindak sebelum waktunya. Coping ini dapat dilihat sebagai strategi yang aktif dalam arti tingkah lakunya dilakukan untuk mengatasi stressor, namun  juga dapat dilihat secara pasif karena dalam strategi ini individu tidak melakukan tindakan apapun.
d) Seeking social support for instrumental reasons
mencari nasihat, bantuan atau informasi.
e) Suppressing of competing activites.
 Salah satu bentuk coping yang di fokuskan pada masalah adalah individu berusaha membatasi ruang gerak/aktifitas dirinya yang tidak berhubungan dengan masalah. Dalam hal ini individu mengurangi keterlibatannya dalam kegiatan lain yang juga membutuhkan perhatian untuk dapat berkonsentrasi penuh pada tantangan  manapun ancaman yang dialaminya. Yang juga termasuk dalam jenis coping Ini adalah perilaku mengabaikan masalah lain untuk menghadapi sumber stres.

D.      TEORI KEPRIBADIAN SEHAT MENURUT ALLPORT
         I.            Pengertian Kepribadian
Definisi komprehensif  Allport atas kepribadian  memberikan gagasan bahwa manusia adalah produk dan proses; manusia mempunyai struktur terorganisasi, sementara pada saat bersamaan mereka memproses kemampuan untuk berubah. Kesimpulannya kepribadian adalah substansi dan perubahan, produk dan proses, serta struktur dan perkembangan

      II.            Karakteristik Pribadi Sehat
Allport (1961) mengidentifikasi enam kriteria kepribadian yang matang :
1. Perluasan Perasaan Diri
Pribadi yang matang dapat mengidentifikasi diri serta berpartisipasi pada aktivitas yang tidak terpusat pada diri mereka saja. Mereka mengembangkan minat yang tidak egosentris dalam pekerjaan, permainan, dan rekreasi.

2. Hubungan Diri yang Hangat dengan Orang-orang Lain
Mereka ini yang sehat secara psikologis memperlakukan orang lain dengan rasa hormat, serta menyadari bahwa kebutuhan, keinginan, dan harapan orang lain merupakan hal yang tidak sepenuhnya asing dengan milik mereka sendiri. Hubungan yang hangat sangat bergantung pada kemampuan seseorang untuk memperluas perasaan diri mereka.

3. Keamanan Emosional atau Penerimaan Diri
 Manusia yang sehat secara psikologis tentu memiliki keseimbangan emosional, mereka menerima dirinya apa adanya dan tidak terlalu bersedih pada hal yang tidak berjalan sesuai dengan yang mereka rencanakan. Mereka menyadari kesedihan, frustasi merupakan bagian dari hidup.

4. Persepsi Realistis
Orang-orang yang sehat memandang dunia mereka secara objektif. Mereka menerima realita sebagaimana adanya.  Sebaliknya orang yang neurotis kerapkali harus mengubah realitas supaya membuatnya sesuai dengan keinginan-keinginan, kebutuhan-kebutuhan, dan ketakutan-ketakutan mereka sendiri.

5. Insight dan Humor
Allport (1961) yakin bahwa insight dan humor sangat berhubungan serta mungkin merupakan aspek dari hal yang sama yaitu pemahaman diri. Pribadi yang matang mengenal dirinya sendiri, sehingga tidak mempunyai kebutuhan untuk mengatribusi kesalahan dan kelemahan pada orang lain.

6. Filosofi Kehidupan yang Integral
Filosofi kehidupan yang integral dapat berupa sesuatu yang bersifat religius atau tidak, tetapi dalam tahap personal, Allport (1954,1963) bahwa orientasi religius yang matang merupakan komposisi yang penting dalam kehidupan pribadi yang sangat matang.

E.       TEORI KEPRIBADIAN SEHAT MENURUT ROGERS
Carl Rogers mengembangkan teori kepribadian humanistik yang tumbuh dari pengalamannya sebagai praktisi psikoterapi. Teori Rogers merupakan teori yang berpusat pada pribadi. Beberapa aspek yang dibahas dalam teori yang berpusat pada pribadi :
1.    Asumsi Dasar
·                     Kecenderungan Formatif
Rogers (1978, 1980) bahwa setiap hal baik organik ataupun tidak, untuk berevolusi dari bentuk yang sederhana menjadi bentuk yang kompleks.
·                     Kecenderungan Aktualisasi
       Kebutuhan untuk menjadi lebih baik, untuk berkembang, dan meraih perubahan.

2.    Diri dan Aktualisasi Diri
·                     Konsep Diri
       Semua aspek dalam keberadaan dan pengalaman seseorang yang disadari oleh individu.
·                     Diri Ideal
       Pandangan seseorang atas diri sebagaimana yang diharapkannya.

3.    Kesadaran
·           Tingkat  Kesadaran
Rogers (1959) menemukan 3 tingkat kesadaran: beberapa pengalaman yang dialami di bawah batas kesadaran biasanya diabaikan, pengalaman akan disimbolisasikan secara akurat, dan pengalaman yang diterima dalam bentuk terdistorsi.
·           Penyangkalan Atas Pengalaman Positif

4.    Menjadi Seorang Manusia
Rogers (1959) yakin bahwa menerima penghargaan positif dari orang lain diperlukan dalam memberikan penghargaan positif pada diri sendiri, namun saat penghargaan positif terhadap diri sudah terbangun, hal tersebut menjadi independen dari kebutuhan untuk terus dicintai.

5.    Hambatan Pada Kesehatan Psikologis
Penghargaan bersyarat, inkongruensi, sikap defensif, disorganisasi.


Referensi
Feist, Jess., Greogory J.Feist. (2011). Psikologi Kepribadian edisi 7. Jakarta: Salemba Humanika.